BAB I
Strategi Pembelajaran
Dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah yang memiliki kemiripan makna, sehingga seringkali orang merasa bingung untuk membedakannya. Istilah-istilah tersebut adalah: (1) pendekatan pembelajaran, (2) strategi pembelajaran, (3) metode pembelajaran; (4) teknik pembelajaran; (5) taktik pembelajaran; dan (6) model pembelajaran. Berikut ini akan dipaparkan istilah-istilah tersebut, dengan harapan dapat memberikan kejelasaan tentang penggunaan istilah tersebut.
1. Pendekatan pembelajaran
Pendekatan Pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).
Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi pembelajaran. Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha, yaitu :
1. Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya.
2. Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran.
3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran.
4. Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha.
Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah:
1. Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik.
2. Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif.
3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan teknik pembelajaran.
4. Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan.
2. Strategi Pembelajaran
adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif.
Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, strategi merupakan Jadi,
3. Metode Pembelajaran
Metode Pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: (1) ceramah; (2) demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7) brainstorming; (8) debat, (9) simposium, dan sebagainya.
Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran.
4. Teknik Pembelajaran
Teknik Pembe;ajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama.
5. Taktik Pembelajaran
Merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalkan, terdapat dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya. Dalam penyajiannya, yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor karena memang dia memiliki sense of humor yang tinggi, sementara yang satunya lagi kurang memiliki sense of humor, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia memang sangat menguasai bidang itu. Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru, sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan. Dalam taktik ini, pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu sekalkigus juga seni (kiat)
Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran
6. Model pembelajaran.
Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.
Berkenaan dengan model pembelajaran, Bruce Joyce dan Marsha Weil (Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990) mengetengahkan 4 (empat) kelompok model pembelajaran, yaitu: (1) model interaksi sosial; (2) model pengolahan informasi; (3) model personal-humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah laku. Kendati demikian, seringkali penggunaan istilah model pembelajaran tersebut diidentikkan dengan strategi pembelajaran.
Untuk lebih jelasnya, posisi hierarkis dari masing-masing istilah tersebut, kiranya dapat divisualisasikan sebagai berikut:
Di luar istilah-istilah tersebut, dalam proses pembelajaran dikenal juga istilah desain pembelajaran. Jika strategi pembelajaran lebih berkenaan dengan pola umum dan prosedur umum aktivitas pembelajaran, sedangkan desain pembelajaran lebih menunjuk kepada cara-cara merencanakan suatu sistem lingkungan belajar tertentu setelah ditetapkan strategi pembelajaran tertentu. Jika dianalogikan dengan pembuatan rumah, strategi membicarakan tentang berbagai kemungkinan tipe atau jenis rumah yang hendak dibangun (rumah joglo, rumah gadang, rumah modern, dan sebagainya), masing-masing akan menampilkan kesan dan pesan yang berbeda dan unik. Sedangkan desain adalah menetapkan cetak biru (blue print) rumah yang akan dibangun beserta bahan-bahan yang diperlukan dan urutan-urutan langkah konstruksinya, maupun kriteria penyelesaiannya, mulai dari tahap awal sampai dengan tahap akhir, setelah ditetapkan tipe rumah yang akan dibangun.
Berdasarkan uraian di atas, bahwa untuk dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, seorang guru dituntut dapat memahami dan memliki keterampilan yang memadai dalam mengembangkan berbagai model pembelajaran yang efektif, kreatif dan menyenangkan, sebagaimana diisyaratkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.
Mencermati upaya reformasi pembelajaran yang sedang dikembangkan di Indonesia, para guru atau calon guru saat ini banyak ditawari dengan aneka pilihan model pembelajaran, yang kadang-kadang untuk kepentingan penelitian (penelitian akademik maupun penelitian tindakan) sangat sulit menermukan sumber-sumber literarturnya. Namun, jika para guru (calon guru) telah dapat memahami konsep atau teori dasar pembelajaran yang merujuk pada proses (beserta konsep dan teori) pembelajaran sebagaimana dikemukakan di atas, maka pada dasarnya guru pun dapat secara kreatif mencobakan dan mengembangkan model pembelajaran tersendiri yang khas, sesuai dengan kondisi nyata di tempat kerja masing-masing, sehingga pada gilirannya akan muncul model-model pembelajaran versi guru yang bersangkutan, yang tentunya semakin memperkaya khazanah model pembelajaran yang telah ada.
Sumber:
Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung: Rosda Karya Remaja.
Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990. Strategi Belajar Mengajar (Diktat Kuliah). Bandung: FPTK-IKIP Bandung.
Udin S. Winataputra. 2003. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.
Wina Senjaya. 2008. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Beda Strategi, Model, Pendekatan, Metode, dan Teknik Pembelajaran (http://smacepiring.wordpress.com/)
Selasa, 29 Maret 2011
Silabus Perencanaan dan Strategi Pembelajaran
SILABUS
Mata Kuliah : Perencanaan dan Strategi Pembelajaran
Jurusan : Ilmu Pendidikan
Progran Studi : S1 Pendidikan Guru SD
Smester : IV (a,b,c,d)
SKS : 2
Dosen : ASWASULASIKIN
E-mail : yayan_asri@ymail.com
I. Kompetensi Mata kuliah
Membangun dan meningkatkan kemampuan mahasiswa untuk merencanakan berbagai strategi pembelajaran dalam meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan melalui proses pembelajaran yang terencana.
II. Deskripsi Mata Kuliah
Mata kuliah ini memuat tentang : (1) Pengertian Pendekatan, strategi, metode, teknik, taktik, dan model pembelajaran, (2) Starategi pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan, (3) Perencanaan pembelajaran (4) Sumber belajar dan Media pembelajaran di SD (5) Penggunaan metode pembelajaran (6) Pengelolaan kelas (7) Pola organisasi materi pada mata pelajaran di SD (8) Pembelajaran berbasis pengalaman (9) Pembelajaran berbasis lingkungan (10) Pembelajaran berbasis Masyarakat
III. Bentuk Kegiatan
Mata kuliah ini akan diselenggarakan dalam berbagai bentuk kegiatan yang menekankan partisipasi aktif mahasiswa baik berupa klasikal dan non kalsikal.
IV. Sumber Acuan
Ad. Rooijakkers, (2008). Mengajar dengan sukses. Jakarta : PT Gramedia Widiasarana Indonesia
Hamalik Oemar (2009), perencanaan pengajaran berdasarkan pendekatan system, Bandung Bumi Aksara
Nasution S. (2006). Asas-asa kurikulum Bandung. Jemmars Bandung.
Sanjaya W. (2009), Strategi pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan, Jakarta Kencana.
Sugihartono, Kartika NF, DKK (2007),Psikologi pendidikan. Yogyakarta : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta
Suharjo, (2006) Mengenal pendidikan sekolah dasar teori dan praktik. Jakarta DEPDIKNAS
Syaiful B.D, Aswan Z, (2006). strategi belajar mengajar. Jakarta, Rinekacipta
Rahman Arif. (2009), Memahami pendidikan dan ilmu pendidikan, Yogyakarta : Laksbang Mediatama Yogyakarta.
Semua literatur perencanaan dan strategi Pembelajaran
V. Penilaian
No Aktivitas Bobot (%) Keterangan
1 Kehadiran Kuliah 20
2 Partsipasi dalam Perkuliahan 10
3 Tugas-tugas 15
4 Ujian Tengah Semester 25
5 Ujian Akhir semester 30
Jumlah 100 %
Mata Kuliah : Perencanaan dan Strategi Pembelajaran
Jurusan : Ilmu Pendidikan
Progran Studi : S1 Pendidikan Guru SD
Smester : IV (a,b,c,d)
SKS : 2
Dosen : ASWASULASIKIN
E-mail : yayan_asri@ymail.com
I. Kompetensi Mata kuliah
Membangun dan meningkatkan kemampuan mahasiswa untuk merencanakan berbagai strategi pembelajaran dalam meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan melalui proses pembelajaran yang terencana.
II. Deskripsi Mata Kuliah
Mata kuliah ini memuat tentang : (1) Pengertian Pendekatan, strategi, metode, teknik, taktik, dan model pembelajaran, (2) Starategi pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan, (3) Perencanaan pembelajaran (4) Sumber belajar dan Media pembelajaran di SD (5) Penggunaan metode pembelajaran (6) Pengelolaan kelas (7) Pola organisasi materi pada mata pelajaran di SD (8) Pembelajaran berbasis pengalaman (9) Pembelajaran berbasis lingkungan (10) Pembelajaran berbasis Masyarakat
III. Bentuk Kegiatan
Mata kuliah ini akan diselenggarakan dalam berbagai bentuk kegiatan yang menekankan partisipasi aktif mahasiswa baik berupa klasikal dan non kalsikal.
IV. Sumber Acuan
Ad. Rooijakkers, (2008). Mengajar dengan sukses. Jakarta : PT Gramedia Widiasarana Indonesia
Hamalik Oemar (2009), perencanaan pengajaran berdasarkan pendekatan system, Bandung Bumi Aksara
Nasution S. (2006). Asas-asa kurikulum Bandung. Jemmars Bandung.
Sanjaya W. (2009), Strategi pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan, Jakarta Kencana.
Sugihartono, Kartika NF, DKK (2007),Psikologi pendidikan. Yogyakarta : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta
Suharjo, (2006) Mengenal pendidikan sekolah dasar teori dan praktik. Jakarta DEPDIKNAS
Syaiful B.D, Aswan Z, (2006). strategi belajar mengajar. Jakarta, Rinekacipta
Rahman Arif. (2009), Memahami pendidikan dan ilmu pendidikan, Yogyakarta : Laksbang Mediatama Yogyakarta.
Semua literatur perencanaan dan strategi Pembelajaran
V. Penilaian
No Aktivitas Bobot (%) Keterangan
1 Kehadiran Kuliah 20
2 Partsipasi dalam Perkuliahan 10
3 Tugas-tugas 15
4 Ujian Tengah Semester 25
5 Ujian Akhir semester 30
Jumlah 100 %
Senin, 03 Januari 2011
Asesmen dalam Pembelajaran Sains SD

Pendahuluan
Proses pembelajaran Sains di SD menuntut keterlibatan peserta didik secara aktif dan bertujuan agar penguasaan dari kognitif , afektif, serta psi-komotorik terbentuk pada diri siswa (Moh. Amin, 1987:42), maka alat ukur hasil belajarnya tidak cukup jika hanya dengan tes obyektif atau subyektif saja. Dengan cara penilaian tersebut keterampilan siswa dalam melakukan aktivitas baik saat melakukan percobaan maupun menciptakan hasil karya belum dapat diungkap. Demikian pula tentang aktivitas siswa selama mengerjakan tugas dari guru. Baik berupa tugas untuk melakukan percobaan, peragaan maupun pengamatan.
Fenomena di atas menunjukkan bahwa bentuk atau sistem penilaian yang digunakan dalam mengukur hasil belajar siswa sangat berpengaruh terhadap strategi pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan guru. Sistem penilaian yang benar adalah yang selaras dengan tujuan dan proses pembelajaran. Tujuan pembelajaran Sains SD pada kurikulum 2004, dapat dirangkum ke dalam tiga aspek sasaran pembelajaran yaitu penguasaan konsep Sains, pengembangan keterampilan proses/kinerja siswa, dan pena-naman sikap ilmiah. Oleh karennya agar informasi tentang hasil belajar siswa dapat mengungkap secara menyeluruh, maka perlu melakukan pengukuran terhadap ketiga aspek tersebut di atas. Dengan demikian sasaran dari penilaian hasil belajar di SD meliputi semua komponen yang menyangkut proses dan hasil belajar siswa dalam kegiatan belajar mengajar.
Tiga target pembelajaran dalam pendidikan Sains SD menuntut kon-sekuensi terhadap alat ukur yang digunakan. Penggunaan tes obyektif dan subyektif semata-mata sangatlah tidak tepat. Kedua bentuk tes ini hanya mampu menggambarkan seberapa banyak informasi yang berhasil dikum-pulkan siswa dan mempunyai kecenderungan membuat siswa lebih pasif dari pada kreatif, karena peserta didik hanya dibiasakan untuk mengingat materi yang sudah dihapalnya (Muh. Nur, 1997:2; Riberu, 1996:4). Agar hasil belajar dapat diungkap secara menyeluruh, maka selain digunakan alat ukur tes obyektif dan subyektif perlu dilengkapi dengan alat ukur yang da-pat mengetahui kemampuan siswa dari aspek kerja ilmiah (keterampilan dan sikap ilmiah) dan seberapa baik siswa dapat menerapkan informasi pengetahuan yang diperolehnya. Alat penilaian yang diasumsikan dapat memenuhi hal tersebut antara lain adalah Tes Kinerja atau Performance Test dan jenis penilaian alternatif lainnya seperti penilaian produk, portofolio, dan penilaian tingkah laku (Stiggins, 1994:159; Depdiknas-Penilaian Kelas, 2004:36). Dengan menerapkan penilaian seperti itu terhadap siswa, dapat dikumpulkan bukti-bukti kemajuan siswa secara aktual yang dapat diguna-kan sebagai bahan pertimbangan untuk memperbaiki proses pembelajaran selanjutnya. Selain itu penilaian dengan cara ini dirasakan lebih adil dan fair bagi siswa serta dapat meningkatkan motivasi siswa untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Dalam penilaian kinerja terdapat perbe-daan tugas dan situasi yang diberikan kepada siswa serta memberikan ke-sempatan untuk mempelihatkan pemahamannya dan kebenarannya dalam aplikasi pengetahuan dan keterampilan menurut kebiasaan berfikirnya (Wiggins dalam marzano,1993:13)
Realitas menunjukkan bahwa penilaian dengan cara konvensional be-lum mampu mengungkap hasil belajar siswa dari aspek sikap dan proses atau kinerja siswa secara aktual. Oleh karenanya diperlukan penerapan sis-tem penilaian yang dapat mengungkap kedua aspek tersebut. Sistem penilaian yang diasumsikan dapat memenuhi tuntutan tersebut adalah sis-tem penilaian yang digagaskan dalam Sistem Penilaian Kelas Kurikulum 2004 yang antara lain meliputi jenis Penilaian Kinerja (Performance Assess-ment), Penilaian Karya (Product Assessment), Penilaian Penugasan , Penilaian Proyek, dan Penilaian Portofolio. Dari jenis-jenis tersebut tersirat bahwa makna penilaian mencakup hal-hal yang lebih luas dari sekedar penilaian konvensional yang selama ini berlangsung.
Pengertian Penilaian
Dalam buku pedoman penilaian kurikulum 1994 (Depdikbud, 1994: 3), dikemukakan bahwa:
"Penilaian adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk mem-berikan berbagai informasi secara berkesinambungan dan menyeluruh ten-tang proses dan hasil belajar yang telah dicapai siswa".
Menurut Nana Sudjana (1989:220), penilaian adalah proses untuk menentukan nilai dari suatu obyek atau peristiwa dalam suatu kon-teks situasi tertentu, dimana proses penentuan nilai berlangsung dalam ben-tuk interpretasi yang kemudian diakhiri dengan suatu "Judgment".
Penilaian tidak sama dengan pengukuran, namun keduanya tidak dapat dipisahkan, karena kedua kegiatan tersebut saling berhubungan erat. Untuk dapat mengadakan penilaian perlu melakukan pengukuran terlebih dahulu (Suharsimi Arikunto, !991: 1). Pengukuran dapat diartikan sebagai pemberian angka kepada suatu atribut atau karakteristik tertentu yang di-dasarkan pada aturan atau formulasi yang jelas (Asmawi Zainul, 1992: 13). Dari hasil pengukuran akan diperoleh skor yang menggambarkan tingkat keberhasilan belajar siswa berdasarkan kriteria yang telah ditentukan.
Lebih lanjut, berikut adalah penjelasan dari buku Penilaian Kelas pada Kurikulum 2004 tentang beberapa istilah yang sering terkait dengan penilaian (Depdiknas, 2004:11-12). "Banyak orang mencampuradukkan pengertian antara evaluasi, pengukuran (measurement), tes, dan penilaian (as-sessment), padahal keempatnya memiliki pengertian yang berbeda. Evaluasi adalah kegiatan identifikasi untuk melihat apakah suatu program yang telah direncanakan telah tercapai atau belum, berharga atau tidak, dan dapat pula untuk melihat tingkat efisiensi pelaksanaannya. Evaluasi berhubungan den-gan keputusan nilai (value judgement). Di bidang pendidikan, kita dapat me-lakukan evaluasi terhadap kurikulum.
Minggu, 26 Desember 2010
PGSD STKIP HAMZANWADI Selong Siap menjadi penyelenggara PPG
Untuk dapat lulus sebagai penyelenggara PPG, sebuah LPTK harus memenuhi bebarapa syarat yaitu : minimal memiliki 2 Doktor dan 4 magister yang masing-masing berkualifikasi Lektor atau lektor kepala sebagai pengajar, memiliki lab microteaching, memiliki SD mitra dengan akreditasi (A). semua persyaratan tersebut sudah dimiliki oleh Program Studi PGSD STKIP HAMZANWADI SELONG NTB. PGSD STKIP HAMZANWADI SELONG memiliki 5 orang Doktor dan 10 orang Magister dengan kualifikasi Lektor. jadi kiranya kami sudah siap lulus sebagai salah satu penyelenggara PPG yang sebentar lagi akan segera di umumkan. Akhirnya kami hanya bisa memohon kepada yang maha kuasa semoga Program Studi PGSD lulus pada Program PPG yang sebentar lagi akan di laksanakan.
Majulah Pendidikan Dasar Indonesia Timur
Majulah Pendidikan Dasar Indonesia Timur
Rabu, 15 September 2010
SILABUS SEMINAR PENDIDIKAN
SILABUS
Mata Kuliah : Seminar Pendidikan
Dosen : ASWASULASIKIN, M.Pd
CP : 081237174233
e-mail : yayan_asri@ymail.com
A. Deskripsi Mata Kuliah
Mata kuliah ini merupakan sarana bagi mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman untuk berseminar, yaitu suatu proses untuk mengemukakan gagasan atau pengetahuan dan mendiskusikanya secara formal. Melalui kuliah ini mahasiswa juga mendapatka kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan dan membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan pendidikan.
B. Tujuan Instruksional
1. Membangun pribadi mandiri Mahasiswa
2. Membangun gagasan dan implementasi dinamis
3. Teknik penyampaian ide dalam forum
4. Langkah-langkah mind mapping, penulisan, dan presentasi gagasan
5. Mengukur keberhasilan seminar
C. Strategi Perkuliahan
Perkuliahan ini menekankan pada experience learning, sehingga penugasan menjadi bagian penting. Peran dosen sebagai fasilitator dan trainer bukan lecturing.
D. Evaluasi Perkuliahan
1. Ujian Tengah Semester : 20 %
2. Ujian Akhir Semester : 40 %
3. Tugas (makalah, praktek) : 20 %
4. Partisipasi kelas : 10 %
5. Kehadiran : 10 %
Implementasi dalam Perkuliahan
NO. Materi Kuliah Sistem Perkuliahan
1 Pengenalan Mata Kuliah Ceramah
2 Seminar, Simposium, Diskusi, debat, rapat dan Workshop Ceramah& k pustaka
3 Meningkatkan kreativitas Ceramah & kajian pustaka
4-5 Menganalisis sumber-sumber masalah dan pemecahannya Ceramah & kajian ustaka
6 Midle Semester
7 Merumuskan masalah dan membuat Judul Praktik
8-10 Teknik Penulisan makalah Praktik
11-12 Membuat Presentasi (Power Point) Presentasi Individual
13 Semeter
Mata Kuliah : Seminar Pendidikan
Dosen : ASWASULASIKIN, M.Pd
CP : 081237174233
e-mail : yayan_asri@ymail.com
A. Deskripsi Mata Kuliah
Mata kuliah ini merupakan sarana bagi mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman untuk berseminar, yaitu suatu proses untuk mengemukakan gagasan atau pengetahuan dan mendiskusikanya secara formal. Melalui kuliah ini mahasiswa juga mendapatka kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan dan membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan pendidikan.
B. Tujuan Instruksional
1. Membangun pribadi mandiri Mahasiswa
2. Membangun gagasan dan implementasi dinamis
3. Teknik penyampaian ide dalam forum
4. Langkah-langkah mind mapping, penulisan, dan presentasi gagasan
5. Mengukur keberhasilan seminar
C. Strategi Perkuliahan
Perkuliahan ini menekankan pada experience learning, sehingga penugasan menjadi bagian penting. Peran dosen sebagai fasilitator dan trainer bukan lecturing.
D. Evaluasi Perkuliahan
1. Ujian Tengah Semester : 20 %
2. Ujian Akhir Semester : 40 %
3. Tugas (makalah, praktek) : 20 %
4. Partisipasi kelas : 10 %
5. Kehadiran : 10 %
Implementasi dalam Perkuliahan
NO. Materi Kuliah Sistem Perkuliahan
1 Pengenalan Mata Kuliah Ceramah
2 Seminar, Simposium, Diskusi, debat, rapat dan Workshop Ceramah& k pustaka
3 Meningkatkan kreativitas Ceramah & kajian pustaka
4-5 Menganalisis sumber-sumber masalah dan pemecahannya Ceramah & kajian ustaka
6 Midle Semester
7 Merumuskan masalah dan membuat Judul Praktik
8-10 Teknik Penulisan makalah Praktik
11-12 Membuat Presentasi (Power Point) Presentasi Individual
13 Semeter
Senin, 26 April 2010
SAINS SD (STKIP HAMZANWADI Selong)
BAB I
HAKEKAT SAINS dan PENGEMBANGANYA
BY
ASWASULASIKIN
A. PENDAHULUAN.
Sains dalam arti sempit sebagai disiplin ilmu yang terdiri atas Physcal science dan life science. Yang termamsuk Physcal science adalah ilmu astronomi, kimia, geologi, mineralogi, meteorology dan fisika. Sedangkan life science meliputi Biologi (anatomi, fisologi, zoology, embriologi, mikrobiologi). A.N. Whitehead menyetakan bahwa sains dibentuk karena pertemuan dua orde pengalaman. Orde pertama didasarkan pada hasil observasi terhadap gejala/akta (orde observasi) dan orde kedua didasarkan pada konsep manusia mengenai alam semesta (orde konsepsional).
Dengan demikian sains berusaha membangkitkan minat manusia agar mau membangkitkan kecerdasan Dan pemahaman tentang alam seisinya yang penuh dengan rahasia yang tak ada habisnya. Tersingkapnya tabir rahasia alam maka oleh manusia maka dari sanalah mengalir informasi-informasi yang dihasilkan, jangkauan sains makin luas Dan lahirlah sifat terapanya yaitu Teknologi. Semula jarak antara sains dengan semua terapanya adalah lebar. Namun seiring dengan perkembangan jaman jarak tersebut makin lama makin sempit, sehingga muncul semboyan “ sains hari ini adalah technology hari esok”, semboyan ini berkali-kali dibuktikan kebenaranya oleh sejarah. Bahkan kini sais Dan technology telah manunggal menjadi budaya IPTEK yang saling mengisi (komplementer), ibarat mata uang yaitu satu sisinya mengandung hakikat sains (the nature of science) Dan sisi lain mengandung makna technology (the meaning of technology). Jadi tingkat kemajuan sains bisa menjadi tolak ukur kemajuan suatu bangsa. Kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh Kemampuan sumberdaya manusia yang dimilki dalam menguasai IPTEK.
Khusus untuk sains SD hendaknya membuka kesempatan untuk memupuk rasa ingin tahu anak didik secara alamiah. Hal ini akan membantu mereka mengembangkan kemampuan bertanya Dan menjawab atas penomela alam berdasarkan bukti serta mengembangkan cara berfikir ilmiah. Focus program pengajaran sains hendaknya ditujukan untuk memupuk minat Dan pengembangan anak terhadap dunia mereka dimana mereka hidup.
Ciri yang menonjol pada pembelajaran sains di Indonesia adalah adanya nilai-nilai agama yang termasuk dalam kurikulum. Melalui pendidikan sains kita mendidik anak untuk meningkatkan iman Dan taqwanya kepada Tuhan yang Maha Esa pencipta alam semesta.
B. HAKEKAT IPA
1. Pengertian Sains (IPA)
Iilmu Pengetahuan Alam merupakan terjemahan bahasa inggris yaitu natural science, artinya ilmu pengetahuan alam. Jadi Ilmu Pengetahuan Alam adalah ilmu yang mempelajari pristiwa-pristiwa di alam. IPA membahas tentang gejala-gejala alam yang disusun secara sitematis yang didasarkan pada hasil percobaan dan pengamatan yang dilakukan oleh manusia. Sistematis artinya pengetahuan itu tersusun atas satu system yang tidak berdiri sendiri
Pengetahuan dimulai dari rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu akan sesuatu inilah yang membentuk pengetahuan. Ilmu merupakan pengetahuan yang digumuli sejak bangku sekolah dasar sampai pendidikan tingkat tinggi. Jelas bahwa sains termasuk mata pelajaran yang harus ditekuni dikuasai oleh generasi muda Indonesia karena sains adalah pondasi teknologi.
2. Sumber Pengetahuan
Manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengembangkan pengetahuan ini secara sungguh-sungguh. Manusia mengembangkan pengetahuanya labia dari sekedar untuk memenuhi kebutuhan kelangsungan hidupnya. Manusia mengembangkan kebudayaan, manusia member makna kepada hidupnya, manusia memanusiakan diri dalam hidupnya. Semua itu pada hakekatnya menyimpulkan bahwa manusia itu ddalam hidupnya mempunyai tujuan.tertentu yang labia tinggi dari sekedar mempertahankan kelangsungan hidupnya. Inilah yang menyebabkan manusia mengembangkan pengetahuan Dan pengetahuan ini jugalah yang mendorong manusia menjadi makhluk yang khas di bumi.
Pengetahuan dapat dikembangkan oleh manusia karena dua hal yakni, pertama memiliki bahasa untuk mengkomunikasikan informasikan Dan jalan fikir yang melatar belakangi informasi tersebut. Dua kelebihan yang membuat manusia map mengembangkan pengetahuan, bahasa yang bersifat komunikatif dan fikiran yang map menalar. Tentu saja pengetahuan berasal dari proses penalaran, sebab berfikirpun tidal senantiasa bernalar. Manusia bukan semata-mata makhluk berfikir tetapi juga merasa dan mengindra.
Berfikir merupakan suatu kegiatan untuk menemukan suatu pengetahuan yang benar batik yang bersifat konkrit maupun abstrak. Sebagai kegiatan berfikir maka penalaran mempunyai ciri-ciri tertentu:
1. adanya pola berfikir yang secara luas disebut dengan logika. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa tiap bentuk penalaran merupakan suatu proses berfikir logis.
2. Adanya sifat analitik dari proses berfikir. Penalaran merupakan suatu kegiatan berfikir yang menyandarkan kepada suatu analisis, Dan kerangka berfikir untuk analisis tersebut adalah logika yang bersnagkutan. Artinya penalaran ilmiah merupakan suatu kegiatan analisis yang merupakan logika ilmiah.
Merasa merupakan suatu cara penarikan kesimpulan yang tidal berdasarkan penalaran yang biasa disebut dengan intuisi. Intuisi merupakan suatu kegiatan berfikir tidal analitik yang tidal mendasarkan dari pola berfikir tertentu. Berfikir intuitif memegang peranan yang sangat penting dalam masyarakat yang berfikir non analitik, yang kemudian sering bergaul dangan perasaan. Menurut Maslow intuisi merupakan pengalaman puncak (peak experience).
3. Bentuk Hasil olah Fikir
Hasil usaha aktif manusia dalam mengembangkan pengetahuan Dan dalam rangka mencari kebenaran dapat melalui fikiran baik kegiatan berfikir berdasarkan penalaran atau logis maupun tidal berdasarkan penalaran tertentu dapat berupa:
a. Mitos: merupakan hasil pemikiran ada yang berdasarkan penalaran juga ada yang tidal berdasarkan penalaran tertentu, disamping itu diperoleh melalui Disamping juga berkaitan dengan keparcayaan.
b. Filsafat: hasil pemikiran yang mendalama tentang suatu hal dengan mengandalkan pemikiran semata Dan normative karakteristik berfikir pertama adalah bersifa menyeluruh, artinya seorang ilmuan tida puas lagi mengenal ilmu hanta dari satu sudut pandang.
4. Ciri Khas Ilmu Pengtahuan.
Ilmu mulai dari penjelajahanya pada pengelaman manusia Dan berhenti dibatas pengalaman manusia. Hal ini disebabkan karena ilmu adalah manusiawi kerena ilmu sebagai ala pembantu manusia dalam menanggulangi masalah yang dihadapi sehari-hari. Ilmu diharapkan dapat memerangi penyakit, membangun jembatan,pembangkit listrik mendidik anak dan sebagainya. Jadi ilmu itu sumbernya obyektif: artinya adanya kesesuaian atau bukti dengan hasil pengindraan atau empiris.
Metode ilmiah merupakan landasan bagaimana ilmu itu diperoleh. Metode ilmiah adalah sintesis antara berfikir rasional dan bertumpu pada data empiris. Secara singkat ilmu diperoleh secara metodik artinya diperoleh dengan menggunakan cara tertentu yang teratur dan terkontrol.
C. Fungsi Sains
1. Fungsi sains untuk merubah sikap manusia terhadap alam semesta dapat digambarkan sebagai berikut:
a. Orang percaya adalah pelangi adalah selendang bidadari, sedangkan orang IPA tahu bahwa pelangi itu berasal dari percikan air yang di tembus oleh sinar matahari.
b. Orang percaya gunung meletus karena meminta sesaji, sedangkan orang IPA tahu bahwa gunung meletus karena perbedaan tekanan antara materi yang menyumbat dengan gas Dan batu yang hendak keluar dari dalam gunung.
2. Fungsi Sains dalam mengetahui suatu Objek yaitu:
a. Fungsi sains untuk membangun pola fikir : perubahan pola fikir memiliki dua asfek yaitu: (1) pandangan manusia terhadap alam semesta, (2) perubahan sikap mental manusia alam memandang sesuatu: dari percaya kepada yang tahayul menjadi objektif.
b. Fungsi sains untuk menjelaskan: yang dijelaskan oleh sains adalah tentang ruang lingkup Dan sasaran sains, yaitu alam semesta Dan isinya. Sains menjelaskan adanya gejala-gejala alam Dan hubungan antara berbagai gejala alam. Yang dijelaskan oleh sains adalah segala sesuatu yang tertangkap oleh indra, meskipun sering memerlukan alat bantu seperti mikroskop, teropong dll. Oleh karena itu cakupan sains menjadi labia luas sejalan dengan semakin canggihnya peralatan yang diciptakan oleh manusia. Dalam menjelaskan sains memiliki cirri-ciri khusus:
1. Analitis: mendeskripsikan semua bagian dari objek penelitianya serta hubungan antara bagian yang satu dengan yang lainya.
2. Logis: dapat diterima oleh akal.
3. Sistematis: terdapat hubungan satu dengan yang lain Dan kebenranya dapat dibuktikan (konsisten Dan sling melengkapi)
4. Kausatif: menjelaskan mengapa segala sesuatu itu terjadi
5. Kuantitatif: mengacu pada (1) kesimpulan yang kebenaranya dapat diuji, (2) penjelasanya disertai dengan angka-angka, (3)
c. Fungsi sains untuk mengetahui hasil pemikiran yang didasarkan atas adanya keteraturan yang ajeg dari gejala alam. Ex. Bode Dan titus (1977) meramalkan Planetoida yang belum ditemukan saat itu, dimana ramalan tersebut didasarkan pada keteraturan tatasurya.
HAKEKAT SAINS dan PENGEMBANGANYA
BY
ASWASULASIKIN
A. PENDAHULUAN.
Sains dalam arti sempit sebagai disiplin ilmu yang terdiri atas Physcal science dan life science. Yang termamsuk Physcal science adalah ilmu astronomi, kimia, geologi, mineralogi, meteorology dan fisika. Sedangkan life science meliputi Biologi (anatomi, fisologi, zoology, embriologi, mikrobiologi). A.N. Whitehead menyetakan bahwa sains dibentuk karena pertemuan dua orde pengalaman. Orde pertama didasarkan pada hasil observasi terhadap gejala/akta (orde observasi) dan orde kedua didasarkan pada konsep manusia mengenai alam semesta (orde konsepsional).
Dengan demikian sains berusaha membangkitkan minat manusia agar mau membangkitkan kecerdasan Dan pemahaman tentang alam seisinya yang penuh dengan rahasia yang tak ada habisnya. Tersingkapnya tabir rahasia alam maka oleh manusia maka dari sanalah mengalir informasi-informasi yang dihasilkan, jangkauan sains makin luas Dan lahirlah sifat terapanya yaitu Teknologi. Semula jarak antara sains dengan semua terapanya adalah lebar. Namun seiring dengan perkembangan jaman jarak tersebut makin lama makin sempit, sehingga muncul semboyan “ sains hari ini adalah technology hari esok”, semboyan ini berkali-kali dibuktikan kebenaranya oleh sejarah. Bahkan kini sais Dan technology telah manunggal menjadi budaya IPTEK yang saling mengisi (komplementer), ibarat mata uang yaitu satu sisinya mengandung hakikat sains (the nature of science) Dan sisi lain mengandung makna technology (the meaning of technology). Jadi tingkat kemajuan sains bisa menjadi tolak ukur kemajuan suatu bangsa. Kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh Kemampuan sumberdaya manusia yang dimilki dalam menguasai IPTEK.
Khusus untuk sains SD hendaknya membuka kesempatan untuk memupuk rasa ingin tahu anak didik secara alamiah. Hal ini akan membantu mereka mengembangkan kemampuan bertanya Dan menjawab atas penomela alam berdasarkan bukti serta mengembangkan cara berfikir ilmiah. Focus program pengajaran sains hendaknya ditujukan untuk memupuk minat Dan pengembangan anak terhadap dunia mereka dimana mereka hidup.
Ciri yang menonjol pada pembelajaran sains di Indonesia adalah adanya nilai-nilai agama yang termasuk dalam kurikulum. Melalui pendidikan sains kita mendidik anak untuk meningkatkan iman Dan taqwanya kepada Tuhan yang Maha Esa pencipta alam semesta.
B. HAKEKAT IPA
1. Pengertian Sains (IPA)
Iilmu Pengetahuan Alam merupakan terjemahan bahasa inggris yaitu natural science, artinya ilmu pengetahuan alam. Jadi Ilmu Pengetahuan Alam adalah ilmu yang mempelajari pristiwa-pristiwa di alam. IPA membahas tentang gejala-gejala alam yang disusun secara sitematis yang didasarkan pada hasil percobaan dan pengamatan yang dilakukan oleh manusia. Sistematis artinya pengetahuan itu tersusun atas satu system yang tidak berdiri sendiri
Pengetahuan dimulai dari rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu akan sesuatu inilah yang membentuk pengetahuan. Ilmu merupakan pengetahuan yang digumuli sejak bangku sekolah dasar sampai pendidikan tingkat tinggi. Jelas bahwa sains termasuk mata pelajaran yang harus ditekuni dikuasai oleh generasi muda Indonesia karena sains adalah pondasi teknologi.
2. Sumber Pengetahuan
Manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengembangkan pengetahuan ini secara sungguh-sungguh. Manusia mengembangkan pengetahuanya labia dari sekedar untuk memenuhi kebutuhan kelangsungan hidupnya. Manusia mengembangkan kebudayaan, manusia member makna kepada hidupnya, manusia memanusiakan diri dalam hidupnya. Semua itu pada hakekatnya menyimpulkan bahwa manusia itu ddalam hidupnya mempunyai tujuan.tertentu yang labia tinggi dari sekedar mempertahankan kelangsungan hidupnya. Inilah yang menyebabkan manusia mengembangkan pengetahuan Dan pengetahuan ini jugalah yang mendorong manusia menjadi makhluk yang khas di bumi.
Pengetahuan dapat dikembangkan oleh manusia karena dua hal yakni, pertama memiliki bahasa untuk mengkomunikasikan informasikan Dan jalan fikir yang melatar belakangi informasi tersebut. Dua kelebihan yang membuat manusia map mengembangkan pengetahuan, bahasa yang bersifat komunikatif dan fikiran yang map menalar. Tentu saja pengetahuan berasal dari proses penalaran, sebab berfikirpun tidal senantiasa bernalar. Manusia bukan semata-mata makhluk berfikir tetapi juga merasa dan mengindra.
Berfikir merupakan suatu kegiatan untuk menemukan suatu pengetahuan yang benar batik yang bersifat konkrit maupun abstrak. Sebagai kegiatan berfikir maka penalaran mempunyai ciri-ciri tertentu:
1. adanya pola berfikir yang secara luas disebut dengan logika. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa tiap bentuk penalaran merupakan suatu proses berfikir logis.
2. Adanya sifat analitik dari proses berfikir. Penalaran merupakan suatu kegiatan berfikir yang menyandarkan kepada suatu analisis, Dan kerangka berfikir untuk analisis tersebut adalah logika yang bersnagkutan. Artinya penalaran ilmiah merupakan suatu kegiatan analisis yang merupakan logika ilmiah.
Merasa merupakan suatu cara penarikan kesimpulan yang tidal berdasarkan penalaran yang biasa disebut dengan intuisi. Intuisi merupakan suatu kegiatan berfikir tidal analitik yang tidal mendasarkan dari pola berfikir tertentu. Berfikir intuitif memegang peranan yang sangat penting dalam masyarakat yang berfikir non analitik, yang kemudian sering bergaul dangan perasaan. Menurut Maslow intuisi merupakan pengalaman puncak (peak experience).
3. Bentuk Hasil olah Fikir
Hasil usaha aktif manusia dalam mengembangkan pengetahuan Dan dalam rangka mencari kebenaran dapat melalui fikiran baik kegiatan berfikir berdasarkan penalaran atau logis maupun tidal berdasarkan penalaran tertentu dapat berupa:
a. Mitos: merupakan hasil pemikiran ada yang berdasarkan penalaran juga ada yang tidal berdasarkan penalaran tertentu, disamping itu diperoleh melalui Disamping juga berkaitan dengan keparcayaan.
b. Filsafat: hasil pemikiran yang mendalama tentang suatu hal dengan mengandalkan pemikiran semata Dan normative karakteristik berfikir pertama adalah bersifa menyeluruh, artinya seorang ilmuan tida puas lagi mengenal ilmu hanta dari satu sudut pandang.
4. Ciri Khas Ilmu Pengtahuan.
Ilmu mulai dari penjelajahanya pada pengelaman manusia Dan berhenti dibatas pengalaman manusia. Hal ini disebabkan karena ilmu adalah manusiawi kerena ilmu sebagai ala pembantu manusia dalam menanggulangi masalah yang dihadapi sehari-hari. Ilmu diharapkan dapat memerangi penyakit, membangun jembatan,pembangkit listrik mendidik anak dan sebagainya. Jadi ilmu itu sumbernya obyektif: artinya adanya kesesuaian atau bukti dengan hasil pengindraan atau empiris.
Metode ilmiah merupakan landasan bagaimana ilmu itu diperoleh. Metode ilmiah adalah sintesis antara berfikir rasional dan bertumpu pada data empiris. Secara singkat ilmu diperoleh secara metodik artinya diperoleh dengan menggunakan cara tertentu yang teratur dan terkontrol.
C. Fungsi Sains
1. Fungsi sains untuk merubah sikap manusia terhadap alam semesta dapat digambarkan sebagai berikut:
a. Orang percaya adalah pelangi adalah selendang bidadari, sedangkan orang IPA tahu bahwa pelangi itu berasal dari percikan air yang di tembus oleh sinar matahari.
b. Orang percaya gunung meletus karena meminta sesaji, sedangkan orang IPA tahu bahwa gunung meletus karena perbedaan tekanan antara materi yang menyumbat dengan gas Dan batu yang hendak keluar dari dalam gunung.
2. Fungsi Sains dalam mengetahui suatu Objek yaitu:
a. Fungsi sains untuk membangun pola fikir : perubahan pola fikir memiliki dua asfek yaitu: (1) pandangan manusia terhadap alam semesta, (2) perubahan sikap mental manusia alam memandang sesuatu: dari percaya kepada yang tahayul menjadi objektif.
b. Fungsi sains untuk menjelaskan: yang dijelaskan oleh sains adalah tentang ruang lingkup Dan sasaran sains, yaitu alam semesta Dan isinya. Sains menjelaskan adanya gejala-gejala alam Dan hubungan antara berbagai gejala alam. Yang dijelaskan oleh sains adalah segala sesuatu yang tertangkap oleh indra, meskipun sering memerlukan alat bantu seperti mikroskop, teropong dll. Oleh karena itu cakupan sains menjadi labia luas sejalan dengan semakin canggihnya peralatan yang diciptakan oleh manusia. Dalam menjelaskan sains memiliki cirri-ciri khusus:
1. Analitis: mendeskripsikan semua bagian dari objek penelitianya serta hubungan antara bagian yang satu dengan yang lainya.
2. Logis: dapat diterima oleh akal.
3. Sistematis: terdapat hubungan satu dengan yang lain Dan kebenranya dapat dibuktikan (konsisten Dan sling melengkapi)
4. Kausatif: menjelaskan mengapa segala sesuatu itu terjadi
5. Kuantitatif: mengacu pada (1) kesimpulan yang kebenaranya dapat diuji, (2) penjelasanya disertai dengan angka-angka, (3)
c. Fungsi sains untuk mengetahui hasil pemikiran yang didasarkan atas adanya keteraturan yang ajeg dari gejala alam. Ex. Bode Dan titus (1977) meramalkan Planetoida yang belum ditemukan saat itu, dimana ramalan tersebut didasarkan pada keteraturan tatasurya.
Senin, 12 April 2010
SILABUS
Mata Kuliah : Perencanaan dan Strategi Pembelajaran
Jurusan : Ilmu Pendidikan
Progran Studi : S1 Pendidikan Guru SD
Smester : IV (a,b)
SKS : 2
Dosen : ASWASULASIKIN
E-mail : yayan_asri@ymail.com
HP : 081237174233
I.Kompetensi Mata kuliah
Membangun dan meningkatkan kemampuan mahasiswa untuk merencanakan berbagai strategi pembelajaran dalam meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan melalui proses pembelajaran yang terencana.
II.Deskripsi Mata Kuliah
Mata kuliah ini memuat tentang : (1) Pengertian Pendekatan, strategi, metode, teknik, taktik, dan model pembelajaran, (2) bentuk pengajaran (3) Perencanaan pembelajaran (4) metode pembelajaran (5) Bahan ajar (6) Pengelolaan kelas (7) Pola organisasi materi pada mata pelajaran di SD (8) Pembelajaran berbasis pengalaman (9) Pembelajaran berbasis lingkungan (10) Pembelajaran berbasis Masyarakat
III.Bentuk Kegiatan
Mata kuliah ini akan diselenggarakan dalam berbagai bentuk kegiatan yang menekankan partisipasi aktif mahasiswa baik berupa klasikal dan non kalsikal.
IV.Sumber Acuan
Ad. Rooijakkers, (2008). Mengajar dengan sukses. Jakarta : PT Gramedia Widiasarana Indonesia
Nasution S. (2006). Asas-asa kurikulum Bandung. Jemmars Bandung.
Sugihartono, Kartika NF, DKK (2007),Psikologi pendidikan. Yogyakarta : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta
Rahman Arif. (2009), Memahami pendidikan dan ilmu pendidikan, Yogyakarta : Laksbang Mediatama Yogyakarta.
Semua literatur perencanaan dan strategi Pembelajaran
V.Penilaian
No Aktivitas Bobot (%)
1 Kehadiran Kuliah 20
2 Partsipasi dalam Perkuliahan 10
3 Tugas-tugas 15
4 Ujian Tengah Semester 25
5 Ujian Akhir semester 30
Jumlah 100 %
Jurusan : Ilmu Pendidikan
Progran Studi : S1 Pendidikan Guru SD
Smester : IV (a,b)
SKS : 2
Dosen : ASWASULASIKIN
E-mail : yayan_asri@ymail.com
HP : 081237174233
I.Kompetensi Mata kuliah
Membangun dan meningkatkan kemampuan mahasiswa untuk merencanakan berbagai strategi pembelajaran dalam meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan melalui proses pembelajaran yang terencana.
II.Deskripsi Mata Kuliah
Mata kuliah ini memuat tentang : (1) Pengertian Pendekatan, strategi, metode, teknik, taktik, dan model pembelajaran, (2) bentuk pengajaran (3) Perencanaan pembelajaran (4) metode pembelajaran (5) Bahan ajar (6) Pengelolaan kelas (7) Pola organisasi materi pada mata pelajaran di SD (8) Pembelajaran berbasis pengalaman (9) Pembelajaran berbasis lingkungan (10) Pembelajaran berbasis Masyarakat
III.Bentuk Kegiatan
Mata kuliah ini akan diselenggarakan dalam berbagai bentuk kegiatan yang menekankan partisipasi aktif mahasiswa baik berupa klasikal dan non kalsikal.
IV.Sumber Acuan
Ad. Rooijakkers, (2008). Mengajar dengan sukses. Jakarta : PT Gramedia Widiasarana Indonesia
Nasution S. (2006). Asas-asa kurikulum Bandung. Jemmars Bandung.
Sugihartono, Kartika NF, DKK (2007),Psikologi pendidikan. Yogyakarta : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta
Rahman Arif. (2009), Memahami pendidikan dan ilmu pendidikan, Yogyakarta : Laksbang Mediatama Yogyakarta.
Semua literatur perencanaan dan strategi Pembelajaran
V.Penilaian
No Aktivitas Bobot (%)
1 Kehadiran Kuliah 20
2 Partsipasi dalam Perkuliahan 10
3 Tugas-tugas 15
4 Ujian Tengah Semester 25
5 Ujian Akhir semester 30
Jumlah 100 %
Langganan:
Postingan (Atom)